Keutamaan Surat Al-Fatihah (1)


Tiap hari kita tidak pernah tidak membaca Surat Al-Fatihah, sedikitnya kita akan membacanya sebanyak 17 kali sehari semalam, yaitu pada shalat 5 waktu. Bahkan mayoritas ulama menegaskan bahwa membaca Surat Al-Fatihah adalah rukun yang harus dilakukan dalam shalat.

Sedemikian seringnya kita membaca Surat Al-Fatihah, bisa jadi membuat kita kurang perhatian terhadap kandungannya. Mungkin demikian.
Berangkat dari hal ini, kita akan berusaha sedikit menelaah apa yang sudah ditinggalkan oleh para pendahulu kita yang shalih tentang surat yang mulia ini.
Kita mungkin banyak mencari keutamaan dari surat-surat dalam Al-Quran, akan tetapi kita terlalaikan dari sebuah surat yang sarat dengan keutamaan, tidak lain adalah Surat Al-Fatihah.
Apa saja keutamaan Surat Al-Fatihah?
Mari kita simak dalam uraian berikut.

  1. Dia adalah Nuur (cahaya) yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelum Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
    Shahabat yang mulia, Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan, "Tatkala Malaikat Jibril duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Nabi mendengar suara derit dari arah atasnya, maka beliau mengangkat kepalanya. Jibril berkata, 'Ini adalah sebuah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah dibuka sebelumnya sama sekali kecuali hari ini' Maka turun melalui pintu itu satu malaikat. Jibril berkata lagi, 'Ini adalah satu malaikat yang turun ke bumi, belum pernah sekalipun dia turun kecuali hari ini', maka kemudian dia memberi salam dan berkata, 'Bergembiralah dengan 2 cahaya yang kamu dapatkan dan tidak pernah seorang nabipun sebelummu mendapatkannya, Fatihatul Kitab dan Khawatim (penutup) Surat Al-Baqarah. Tidak pernah kamu membaca satu huruf dari keduanya melainkan kamu akan diberi'" HR. Muslim.
    Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, "Bergembiralah dengan 2 cahaya, yaitu karena keduanya akan menjadi cahaya pada hari Kiamat yang menuntun orang yang membacanya, karena kemuliaan dan keagungannya, atau semasa di dunia dengan perenungan maknanya sebagai kiasan dari petunjuk dengan sebabnya menuju ash-Shirathul Mustaqim" Fathul Ilah fi Syarhil Misykah

Komentar