Tadarus Surat An-Naas (2)


 {قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ} [An-Nas:1]

Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
{مَلِكِ ٱلنَّاسِ} [An-Nas:2]
Raja manusia.
{إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ} [An-Nas:3]
Sembahan manusia.
{مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ} [An-Nas:4]
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
{ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ} [An-Nas:5]
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
{مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ} [An-Nas:6]
dari (golongan) jin dan manusia.

Istilah
Al-Khannas yaitu setan yang kembali, mundur, dan bersembunyi apabila disebut nama Allah Azza wa Jalla, berasal dari kata khanasa yaitu bersembunyi. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa al-Khannas dengan wazan fa'al dari kata kerja khanasa - yakhnusu, memiliki 2 makna, yang pertama mundur dan bersembunyi setelah menampakkan diri, dan yang kedua adalah mundur dan kembali ke belakang (Bada'iul Fawaid)

Makna Umum
Allah Subhanahu wa Ta'ala memulai surat yang mulia ini dengan firmanNya,
"Qul" yaitu katakanlah wahai Rasulullah, memohon perlindungan kepada Allah saja, aku memohon perlindungan kepada Rabbnya manusia, Rajanya manusia, sembahannya manusia, dari keburukan setan yang membisikan was-was yang buruk dan bersembunyi dari kejauhan tatkala hamba ingat kepada Rabbnya. Setan itu melemparkan was-was ke dalam dadanya manusia, baik dari golongan jin maupun manusia.

Tafsir Perayat

  1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
    Katakanlah wahai Rasulullah, Aku memohon perlindungan kepada Rabbnya manusia yang mengatur urusan mereka dan memperbaiki kondisi mereka. (Tafsir al-Qurthubi, Majmu' Fatawi Ibnu Taimiyah, Tafsir asy-Syaukani, Tafsir al-Qasimi).
  2. Raja manusia.
    Rajanya seluruh manusia, mereka seluruhnya berada di bawah kerajaan dan pengaturan, kekuasaan, dan kekuatanNya. PerintahNya sampai kepada mereka dan juga ketetapanNya bukan selainNya. (Tafsir Ibnu Jarir, Nazhmud Durar, Tafsir asy-Syaukani, Tafsir al-Qasimi, Tafsir Ibnu 'Utsaimin)
  3. Sembahan manusia.
    Sembahan yang benar dari manusia, yang berhak untuk diibadahi. Adapun seluruh yang diibadahi selainNya adalah batil (Tafsir Ibnu Jarir, Majmu' Fatawi Ibnu Taimiyah, Tafsir al-Qasimi, Tafsir Ibnu 'Utsaimin)
  4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
    yaitu dari kejahatan setan yang membisikan keburukan, yang dia itu pergi, mundur, dan bersembunyi tatkala hamba ingat kepada Rabbnya (Tafsir Ibnu Jarir, Tafsir al-Qurthubi, Bada'iul Fawaid, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir as-Sa'di, Tafsir Ibnu 'Utsaimin, dll)
  5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
    Setan melemparkan was-was dalam dada manusia terus-menerus dengan menghias-hiasi kesesatan dengan petunjuk, serta menghalangi mereka dari kebaikan (Al-Wasith, Tafsir Ibnu Juzzi, Bada'iul Fawaid, Nazhmud Durar, Tafsir as-Sa'di)
  6. dari (golongan) jin dan manusia.
    Setan yang berasal dari golongan jin dan manusia (Tafsir Ibnu 'Athiyah, Tafsir Ibnu 'Asyur, dll).

Komentar